Postingan

Apakah Hati Manusia Selemah Itu?

Apakah hati manusia selemah itu? Ditinggal sementara, malah hilang entah kemana. Apakah hati manusia selemah itu? Terbuai godaan sampai lupa kesetiaan. Apakah hati manusia selemah itu? Diminta bersabar, malah hilang tanpa kabar. Apakah hati manusia selemah itu? Diamanahkan belati, namun dipakai untuk menyakiti. Apakah hati manusia selemah itu? Melihat paras cantik, hatipun terpetik. Apakah hati manusia selemah itu? Berani berdusta untuk kebaikannya semata. Apakah hati manusia selemah itu? Jika hati manusia itu lemah, Tunjukkan lah Allah, apa yang dapat membuatnya kuat lagi kokoh? Karna, aku pun tak mau meringis terlalu lama karna hatiku lemah. Aku tak mau menangis sampai lelah karna hatiku lemah. Aku tak mau berkubang dalam kesedihan karna hatiku lemah. Aku tak mau buta karna hatiku lemah. Aku tak mau jauh dari-Mu ya Allah lantaran hatiku lemah. Beritahu aku, Bagaimana aku harus menciptakan hati yang kokoh? Yang gagah menangkal bualan buaya. Yang hebat karna bermartabat. Ya...

Apakah Engkau Meninggalkanku?

Bagaimana caraku menjelaskannya? Darimana aku dapat menceritakannya? Aku tidak tahu. Semuanya seperti kehabisan makna. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang hampa. Aku tak tahu darimana harus memulainya. Rasanya seperti tak dapat lagi merasai apa-apa. Konsonan-konsonan kata, berputar tak teratur di pelupuk pikiran. Susunan yang jatuh berantakan. Puing-puing raksasa tenggalam didasar laut yang tak tenang, namun juga tak berombak. Sakit sudah berlalu, sisanya hanya ketidaktahuan yang tak pasti. Membuat lubang besar pada seonggok daging bernama hati. Ya Allah..  Yang sedang kurasai ini,— apakah tanda bahwa aku sedang kehilangan-Mu? Tersiksa dalam kehampaan adalah ujian yang sangat kejam. Lalu aku harus bagaimana? Dengan cara seperti apa lagi aku menjalani  hidup? Sedang semuanya nampak tak ada lagi makna dan terlihat sia-sia. Ya Allah, Disaat semuanya menghilang, Kumohon, tetaplah bersamaku Jangan tinggalkan aku walau hanya sekejap mata. Ya Allah, kumohon…

CUKUP

Bermula dari ketidak sengajaan, hubungan itu akhirnya terbentuk. Komitmen yang mengikat mulai bersemi dengan balutan rasa yang sering ku sebut cinta. Hari-hari yang berjalan begitu indah. Hingga membuat letupan-letupan hangat di dada. Kau bisa bayangkan? Takdir yang belum utuh, ku artikan sebagai ‘pertanda’ begitu saja. Tanpa permisi kepada Sang Pemilik Takdir. Tanpa curiga dan lama berpikir. Padahal ada saja kemungkinan jangan-jangan bukan pertanda, melainkan ujian.  Aku yang saat itu keliru dan tak sadar dengan kekeliruan… Ya Allah, aku pernah merasa sangat bahagia dengan memiliki apa yang sangat ku inginkan. Hingga rasanya, aku hanya ingin bersyukur untuk nikmat yang satu ini. Tanpa minat melirik nikmat-nikmat lain yang tercurah dalam tiap tarikan nafas. Saat itu, aku terus memuji Mu. Berterima kasih yang tak terhingga. Padahal sungguh, ada nikmat yang lebih patut ku syukuri. Engkau menempatkanku pada ruang penjagaan tertinggi, lingkungan terbaik, dan pertemuanku dengan mereka. ...

Dua Sisi Kertas

Keberadaannya laksana langit dan bumi Tidak boleh bertemu Maka, Gunung-gunung adalah sebuah fitrah Agar tetap dibuat seperti itu adanya Maka, Gunung-gunung adalah sekat Agar langit tetap indah dengan sejuta kuasa Agar bumi dengan maha duniawinya, Tetap menjadi tempat yang layak tersinggah ‘Dua yang tak mungkin bertemu’ Tidak boleh berbias, karna tugasnya jelas Patut kau imani, agar sistem Ilahiyah berjalan harmoni Namun, Bagaimana dengan ‘dua yang tak mungkin bertemu’ lainnya? Yang kuasanya jauh lebih kecil dari langit Yang kebermanfaatannya tak lebih elok dari bumi Sekatnya hanya laksana dua sisi kertas tipis Yang tiap sisinya telah tergores dengan warna berbeda Usahanya sederhana, sangat sederhana Hanya mencoba, mencari-cari warna yang sama agar dapat saling menerima atau merubah dwi warna, menjadi tunggalan warna baru Nan manis bersatu Ah atau mungkin, dapat lebih disederhanakan lagi ‘Dua yang tak dapat bertemu’ ...

Hati-Hati Menjaga Hati

Tabayyun merupakan suatu bentuk klarifikasi. Cross check terhadap suatu permasalahan yang sedang dihadapi. Pentingkah tabayyun? Sangat penting. Jelas! Tabayyun itu salah satu bentuk kehati-hatian. Hati-hati terhadap penyakit hati yang bernama su’udzon. Penyakit yang beberapa kurun waktu ini telah menjangkiti hati-hati para kaum muslimin. Penyakit yang lebih parah dari kanker. Karna bukan hanya menggerogoti jasad kita, su’udzon dapat menggerogoti hati, jiwa bahkan ibadah kita! Adanya penyakit su’udzon dapat meretakkan hubungan dengan saudara kita,--saudara seiman kita. Jika sudah ada prasangka buruk di dalam hati, persatuan ummat tak akan pernah bisa ditegakkan. Beberapa diantara pengembangbiakkan penyakit ini adalah tidak diajarkannya hati kita untuk klarifikasi untuk tabayyun. Maka dibiarkan saja pikiran itu menciptakan opini-opini yang belum tentu benar. Dibiarkan saja hati itu melahirkan amarah dan prasangka-prasangka yang tidak ada dasarnya. Lalu, hati dan pikiran kit...

Mengukir Jejak

Lagi-lagi dengan sangat malu ku rangkai tulisan ini. Tulisan yang seharusnya tidak ku buat. Yang seharusnya tidak perlu ku tampakkan. Untuk apa? Hal ini terlihat bodoh dan sangat memalukan bukan? Karna, lagi-lagi soal ini. Lagi-lagi membahas hal yang sama. Lagi-lagi aku bercanda. Maafkan aku, Aku tidak dapat menjaga hati untuk kesekian kalinya. Aku tidak dapat menghentikan ini. Aku tidak dapat mengubahnya. Berkali-kali kucoba, namun gagal. Aku gagal melampauimu, duhai.  Aku kalah. Dan ku akui itu. Maafkan aku, Aku benar-benar telah mencoba. Meracuni hatiku, memasung kedua tanganku. Menutup mata dan menulikan telinga. Agar hilang semua, tak berbekas. Agar musnah semua yang tertinggal. Aku benar-benar telah mencoba.. Memohon agar tidak mengingat, agar lupa. Namun ternyata, lupa adalah satu-satunya jalan untuk kembali ingat. Dengan lupa, aku hanya sedang mengukir jejakmu, untuk kembali ingat... Maafkan aku.

Diam-Diam Mencinta

Banyak orang yang beranggapan bahwa, dirinya lah yang paling dapat mencintai. Paling dapat membuat bahagia. Paling dapat melakukan yang terbaik untuk saudara seimannya. Banyak orang yang melebeli dirinya sebagai orang yang paling tahu. Orang yang paling megerti, orang yang paling faham tentang saudara seimannya. Namun, pernahkah kita mendoakannya? mendoakannya diam-diam? mendoakan kebaikan kepadanya, mendoakan keberkahan hidup untuknya? Dalam sebuah hadist riwayat muslim, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ. Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah ke...