Hati-Hati Menjaga Hati
Tabayyun merupakan suatu bentuk klarifikasi. Cross check
terhadap suatu permasalahan yang sedang dihadapi. Pentingkah tabayyun? Sangat
penting. Jelas!
Tabayyun itu salah satu bentuk kehati-hatian. Hati-hati terhadap
penyakit hati yang bernama su’udzon. Penyakit yang beberapa kurun waktu ini
telah menjangkiti hati-hati para kaum muslimin. Penyakit yang lebih parah dari
kanker. Karna bukan hanya menggerogoti jasad kita, su’udzon dapat menggerogoti
hati, jiwa bahkan ibadah kita!
Adanya penyakit su’udzon dapat meretakkan hubungan dengan saudara
kita,--saudara seiman kita. Jika sudah ada prasangka buruk di dalam hati,
persatuan ummat tak akan pernah bisa ditegakkan.
Beberapa diantara pengembangbiakkan penyakit ini adalah tidak
diajarkannya hati kita untuk klarifikasi untuk tabayyun. Maka dibiarkan saja
pikiran itu menciptakan opini-opini yang belum tentu benar. Dibiarkan saja hati
itu melahirkan amarah dan prasangka-prasangka yang tidak ada dasarnya. Lalu,
hati dan pikiran kita seperti katak dalam tempurung. Terkungkung oleh opini dan
prasangka sendiri yang belum tentu benar adanya. Hati kita tidak di didik untuk
mengklarifikasi semua permasalahan yang ada dan segala persoalan yang masih
menjadi ganjalan dalam hati. Dibiarkan begitu saja berlarut-larut oleh
prasangka.Tidak di didik untuk bertanya. Tidak di didik untuk mencari tahu.
Tidak di didik untuk memiliki kondisi hati yang sehat.
Lalu selain itu, penyakit su’udzon juga dapat berkembangbiak karena tidak
membiasakan silaturahim. Tidak saling berkunjung, tidak saling bertemu, tidak
saling berbincang. Dan jangan kau pikir, silaturahim hanya berbentuk fisik
saja. Hanya sebatas saling kunjung saja. Mengabari dari jauh, saling sapa
melalui media, dan saling mendoakan kebaikan pun juga salah satu bentuk
silaturahim.
Ya, silaturahim hati.
Tabayyun dan silaturahim merupakan hal fundamental untuk membentuk suatu bangunan-bangunan ukhuwah yang kokoh. Untuk
menghindari penyakit hati yang dapat mematikan persatuan ummat. Untuk itu, mari
biasakan diri untuk tabbayun dan silaturahim. Jangan sedikit-sedikit sentiment.
Jangan diam saja, mulailah bertanya. Mulailah mencari tahu. Mulailah
berkunjung, menyapa, dan mendoakan.
Walau mungkin diri ini tak luput dari dosa. Namun semoga, usaha
kecil yang kita lakukan ini, tidak sampai memadamkan setiap ibadah dan amal
baik yang telah kita lakukan. Khususnya untuk penulis. Menulis tajuk ini bukan
berarti sudah benar dan terhindar dari dosa. Hanya ingin menasehati diri
sendiri dan menjadikannya sebagai pengingat bersama dalam bentuk tulisan. Mari
baik sama-sama. Wallahualam bish showaab.
Bekasi, 08 Mei 2018
22.53 WIB
Di Kamar Tidur
Komentar
Posting Komentar