CUKUP
Bermula dari ketidak sengajaan, hubungan itu akhirnya terbentuk. Komitmen yang mengikat mulai bersemi dengan balutan rasa yang sering ku sebut cinta. Hari-hari yang berjalan begitu indah. Hingga membuat letupan-letupan hangat di dada. Kau bisa bayangkan? Takdir yang belum utuh, ku artikan sebagai ‘pertanda’ begitu saja. Tanpa permisi kepada Sang Pemilik Takdir. Tanpa curiga dan lama berpikir. Padahal ada saja kemungkinan jangan-jangan bukan pertanda, melainkan ujian.
Aku yang saat itu keliru dan tak sadar dengan kekeliruan…
Ya Allah, aku pernah merasa sangat bahagia dengan memiliki apa yang sangat ku inginkan. Hingga rasanya, aku hanya ingin bersyukur untuk nikmat yang satu ini. Tanpa minat melirik nikmat-nikmat lain yang tercurah dalam tiap tarikan nafas. Saat itu, aku terus memuji Mu. Berterima kasih yang tak terhingga. Padahal sungguh, ada nikmat yang lebih patut ku syukuri. Engkau menempatkanku pada ruang penjagaan tertinggi, lingkungan terbaik, dan pertemuanku dengan mereka. Teman-teman hanif yang mewarnaiku.
Kemudian, aku merasa waktu berjalan begitu cepat. Secepat rasa syukur yang kian terkikis. Bergulir bersama ribuan cerita dan peristiwa. Aneh, pikirku. Termasuk golongan hamba yang seperti apa aku ini? Nikmat itu masih ku rasai. Namun bentuk syukurnya tak dapat lagi ku resapi. Sudah jatuh tersungkur, namun enggan bangkit berdiri. Cinta yang harusnya terjaga kesuciannya dengan akad yang sakral, kini menjadi penyakit yang mematikan hati, bahkan untuk cinta itu sendiri. Mempercayakan kepada diriku sendiri untuk membaca kode-kode dari Mu adalah kebutaan panjang yang bercokol dalam hatiku, berhari-hari lamanya.
Allah, aku tahu tentang hakikat seorang wanita, yang bahkan ketika keluar rumah, syaithan tak habis menghiasi dari berbagai arah. Hingga menyilapkan mata-mata liar dalam buayan. Aku terlahir dengan penuh fitnah. Bagi hati lelaki yang telah ku singgahi, bagi cinta yang ku ciptakan bersamanya. Aku telah mengotori yang suci, membinasakan hati yang bersih.
Kini, ganjaran Mu menimpaku. Menamparku. Menenggelamkanku dalam kegalauan, kegelisahan, kebingungan, keterpurukan, dan dosa yang menganga. Berusaha aku bangkit, namun tak daya. Berusaha aku berdiri, namun tak kuasa.
Hingga akhirnya, tunas-tunas keridhaan tumbuh dalam diri. Pucuk-pucuk keikhlasan mekar menguatkan hati. Lama aku menangis dalam sujud panjang. Meminta kelapangan. Engkau kabulkan. Beban yang mengikat, sakit yang kurasai, perlahan dapat ku terima apa adanya. Bila memang sakit ini adalah hukuman untukku, ku terima sepenuh hati. Langkahku mulai ringan, walau masih ada tanda tanya besar, tentang apakah aku masih dapat bersamanya? Membangun surga dalam bilik rumah tangga.
Namun, aku tak lagi mengizinkan hati ini tersungkur dua kali. Aku tak ingin lagi menjadi fitnah bagi hati yang bersih. Aku ingin menjaga apa yang seharusnya terjaga. Aku ingin menebus khilaf hari-hari lalu. Membuat jarak yang lebar melintang. Membangun benteng sebelum halal. Karna tidak ada waktu lagi, untuk bermain-main memuaskan diri. Cukup. Cukup sudah pengharapan kepada manusia menjadi bagian puzzle kehidupanku yang berhikmah. Pengalaman abadi agar tak terulang kembali. Aku ingin bersungguh-sungguh, Allah. Dengarkanlah aku..
Entah siapa pun kelak yang nantinya mengisi ruang hati. Aku sangat berterima kasih atas sepucuk kisah manis ini. Mengajarkan arti ikhlash yang semurninya. Membesarkan ridho dalam tali kasih Nya. Aku tak akan merisaukannya lagi.
Wahai Rabb Yang Maha hidup,
Wahai Rabb Yang Maha berdiri sendiri
Dengan rahmat Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan (urusanku) kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata (tanpa pertolongan dari Mu).
Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar