Diam-Diam Mencinta
Banyak orang yang beranggapan bahwa, dirinya lah yang paling dapat mencintai. Paling dapat membuat bahagia. Paling dapat melakukan yang terbaik untuk saudara seimannya. Banyak orang yang melebeli dirinya sebagai orang yang paling tahu. Orang yang paling megerti, orang yang paling faham tentang saudara seimannya.
Namun, pernahkah kita mendoakannya? mendoakannya diam-diam?
mendoakan kebaikan kepadanya, mendoakan keberkahan hidup untuknya?
Dalam sebuah hadist riwayat muslim, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.
Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.
Terkadang, kita terlalu menunjukkan cinta sebagai sebuah pernyataan terang-terangan. Sangat mudah sekali diungkapkan, sangat mudah sekali berkata bahwa "aku lah yang paling memahami".
Padahal, tahu kah kamu.. Bahwa hal yang termanis dalam mencintai adalah ketika kau mengingatnya saat tidak sedang melihatnya. Kau merasa seolah-olah sedang bersamanya padahal tidak sedang bersamanya. Kemudian, kau lantunkan doa-doa untuk nya, kau mohonkan kebaikan dan keberkahan hidupnya, kau minta kepada Allah keistiqomahan hati agar dapat selalu mencintai, agar selalu berjalan bersama diatas jalan Nya. Doa dan harapan tersebut disaksikan oleh malaikat, dan diperantarai oleh mereka menjadi doa yang dapat terkabul. Selain itu, malaikat akan mendoakan kita agar mendapatkan kebaikan serupa. Manis, bukan?
Begitu seharusnya cinta seorang muslim terhadap saudara muslimnya. Cinta yang tenang, cinta yang bergejolak di kesunyian, cinta yang melahap keramain. Cinta yang dibuktikan dengan sikap dan tindakan. Tak berisik dengan ucapan cinta, tak ria dengan pengakuan "aku paling faham". Walau boleh jadi, kenyataannya demikian. Kenyataannya memang kau yang paling cinta, kau paling faham. Namun, mungkin kau tidak akan mendapatkan bagian termanis dalam mencinta.
Setelah itu kau akan mengenal arti tulus sesungguhnya. Tulus dalam mencintai, tulus dalam mendoakan, tulus dalam memberikan sikap dan tindakan. Sekali lagi, tanpa berisik. Karna, setiap orang mampu mengatakan cinta, namun sangat sedikit yang dapat membuktikan ketulusan. Ya, tulus.
Bekasi, 3 Dzulhijjah 1438 H
Komentar
Posting Komentar