CUKUP
Bermula dari ketidak sengajaan, hubungan itu akhirnya terbentuk. Komitmen yang mengikat mulai bersemi dengan balutan rasa yang sering ku sebut cinta. Hari-hari yang berjalan begitu indah. Hingga membuat letupan-letupan hangat di dada. Kau bisa bayangkan? Takdir yang belum utuh, ku artikan sebagai ‘pertanda’ begitu saja. Tanpa permisi kepada Sang Pemilik Takdir. Tanpa curiga dan lama berpikir. Padahal ada saja kemungkinan jangan-jangan bukan pertanda, melainkan ujian. Aku yang saat itu keliru dan tak sadar dengan kekeliruan… Ya Allah, aku pernah merasa sangat bahagia dengan memiliki apa yang sangat ku inginkan. Hingga rasanya, aku hanya ingin bersyukur untuk nikmat yang satu ini. Tanpa minat melirik nikmat-nikmat lain yang tercurah dalam tiap tarikan nafas. Saat itu, aku terus memuji Mu. Berterima kasih yang tak terhingga. Padahal sungguh, ada nikmat yang lebih patut ku syukuri. Engkau menempatkanku pada ruang penjagaan tertinggi, lingkungan terbaik, dan pertemuanku dengan mereka. ...