Sesal
Terdengar suara riuh di gerbang belakang sekolah. Hal ini memaksa ku untuk segera beranjak menghampiri asal suara tersebut. Aku membayar baso yang telah habis kumakan di kantin dan bergegas menuju tempat keributan. Setelah sampai, aku melihat kerumunan siswa yang terdengar seperti sedang menyoraki sesuatu. Aku menerobos kerumunan itu. Kudapati dua orang siswa yang jatuh tersungkur di depan gerbang. Kedua siswa malang itu dikerubungi oleh beberapa siswa yang menyorakinya. Barulah kutahu siapa biang onar atas kerusuhan ini. Dia siswa kelas 12IPS 3, Aldhi dan temannya yang tak asing lagi untukku, Ray.
Sekejap darahku naik pitam. Lagi-lagi dia, pekikku dalam hati.
“Sedang apa kalian?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Menurut mu sedang apa kami?” Ray balik bertanya dengan wajah tengil yang sangat kubenci.
Anak itu selalu menyebalkan. Tidak pernah disiplin, selalu datang terlambat, semua semaunya. Lihat apa yang telah ia dan temannya lakukan, mereka merusak gerbang belakang sekolah agar bisa masuk dengan aman tanpa diketahui satpam dan guru piket. Segera kupergi dengan perasaan kesal. Aku akan melaporkan kejadian ini kepada BuChintya. Mereka harus mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan yang mereka lakukan.
####
Nama ku Nata. Bisa dikatakan aku adalah siswi terbaik di sekolah ini. Siapa yang tak mengenalku, siswi teladan dan berprestasi, yang selalu menang mengikuti Olimpiade Sains Tingkat Nasional, aktif dibeberapa organisasi dan menjadi ketua OSIS. Semua guru menyanjungku. Banyak pula siswa yang mengidolakanku.
Jika ditiap sekolah selalu ada siswa berprestasi sepertiku, pasti disisi lain juga ada siswa non-prestasi yang perbuatannya selalu menimbulkan masalah. Seperti yang sedang berlangsung dihadapanku sekarang.
“Sudah berapa kali kau terlambat Ray?” tanya Bu Chintya kepada anak lelaki berambut jabrik yang berdiri di sampingku.
“Ngggg…sepuluh kali sepertinya bu.” jawab Ray sambil nyengir.
“Lebih dari itu, kau tahu. Namamu sudah banyak tertera dibuku ini.” ungkap Bu Chintya seraya mengambil buku catatan dari tanganku. Selain menjabat menjadi ketua OSIS, aku adalah wakil Bu Chintya yang menjabat sebagai penanggungjawab kesiswaan.
Ray melirikku tajam.
Sebagai murid yang mempunyai disiplin tinggi, aku sangat membenci anak semacam Ray. Dia siswa bermasalah yang selalu datang terlambat dan mengabaikan peraturan sekolah. Entah mengapa selama aku menjabat menjadi wakil kesiswaan, ada saja alasan yang mendorongku untuk menulis namanya di buku “Pelanggaran Siswa”. Kurasa sikapnya akan selalu seperti itu. Tidak akan pernah berubah. Entah bagaimana bisa sekolah ini masih mempertahankan siswa ‘gagal’ didik seperti dia.
“Kau dihukum membersihkan kamar mandi sepulang sekolah, Ray!” seru Bu Chintya mengakhiri pembicaraan.
####
Pagi ini aku tergesa-gesa berangkat ke sekolah. Aku terlambat bangun lantaran semalaman suntuk mengerjakan PR matematika. Ditambah lagi kemarin aku memimpin rapat OSIS sampai sore. Sangat melelahkan.
Bel berbunyi 5 menit setelah aku sampai di sekolah. Fyuh, lega rasanya tidak sampai terlambat. Aku segera masuk kelas. Disudut ruangan kulihat Ray dan teman-temannya sedang asik bermain gitar. Dia tidak terlambat seperti sebelumnya.
Aku menuju bangkuku. Namun tiba-tiba, Ray memanggilku.
“Nata! Lihatlah, hari aku lebih cepat darimu.” serunya.
“Tapi aku tidak sampai terlambat sepertimu kemarin!” jawabku ketus.
“O ya? Masak?” Ray bertanya dengan wajah meledek “Siswa teladan kebanggaan sekolah kita, hari ini datang lebih lambat dari siswa malas seperti ku!” teriak Ray dengan wajah puas diikuti suara tawa teman-temannya.
Aku menaruh tas di banggu. Karna merasa kesal, kuabaikan saja ucapannya. Tak lama setelah itu, guru fisika kami datang. Kami mengucap salam, lalu segera menyiapkan buku Fisika dan peratalatan tulis.
Aku mengeluarkan alat tulis, dan buku Fisika.
Tunggu. Buku Fisika itu tidak ada di tasku. Aku yakin telah memasukkannya ke dalam tas tadi malam. Keringat tiba-tiba mengalir di sekujur tubuhku. Aku Panik. Tidak mungkin aku lupa membawanya. Aku terus memeriksa tas milikku.
“Bu, saya izin ke toilet.” ucap Ray tiba-tiba seraya mengacungkan tangan. Bu Sonya mengizinkannya.
Ray yang duduk di belakang kemudian berjalan melewatiku. Tiba-tiba ia menjitak kepalaku, dan segera berlari ke luar.
Sial.
Aku benar-benar menghiraukannya. Perhatianku masih fokus pada isi tas yang daritadi kuperiksa. Bagaimana mungkin siswa sepertiku lupa membawa buku pelajaran. Setelah beberapa menit, buku itu tidak juga kutemukan, sedangkan Bu Sonya sudah memulai pelajaran. Aku menyerah. Kuletakkan tas itu, lalu memfokuskan pandangan ke papan tulis. Berharap Bu Sonya tidak memperhatikanku.
Aku memasukkan tanganku ke kolong meja. Secara tak sengaja aku meraba sesuatu yang kurasa itu sebuah buku. Segera kukeluarkan buku itu. Aku terkejut, ternyata itu adalah buku Fisika. Ah dasar menyebalkan! Ini pasti ulah Ray. Segera saja kubuka buku itu. Dan kembali menyimak.
Tak lama kemudian, Ray datang. Aku meliriknya tajam. Seperti biasa, dia hanya terkekeh. Aku membuka halaman selanjutnya. Namun tiba-tiba aku menemukan secarik kertas berwarna biru muda. Kertas itu dilipat menjadi dua. Sejak kapan aku menyelipkan kertas berwarna biru disini? tanyaku dalam hati. Segera kubuka isi kertas itu. Ternyata di dalamnya terdapat tulisan yang terangkai seperti list. Ada beberapa point di list itu. Aku membaca tulisannya sampai point terakhir. Aneh sekali isinya, pikirku. Lalu di bagian paling bawah tertera sebuah nama yang tiba-tiba sangat membuatku terkejut. Aku melipat kembali kertas itu, lalu membuka buku Fisika pada halaman paling awal. Buku itu memiliki nama dihalaman paling depan. Dan itu bukan namaku.
Buku itu milik orang lain.
####
Aku berdiri di samping pintu masuk. Keringat mengalir di dahiku. Aku merasa gugup. Kuintip ke dalam ruangan itu. Aku mendapati wanita kecil yang sedang berbaring dikasur. Wajahnya tampak pucat. Di sampingnya terdapat seorang pria yang dengan sabar sedang menyuapi makanan ke gadis tersebut.
Tak lama kemudian seorang suster masuk ke dalam ruangan. Suster itu terlihat seperti sedang berbicara kepada si pria. Lalu gadis yang daritadi di tempat tidur itu dipindahkan ke kursi roda, lalu suster membawanya pergi. Kini pria itu sendiri.
Aku memberanikan diri masuk keruang rawat inap tersebut dan menghampiri lelaki disana yang tak lain adalah Ray.
“Ray,” sapaku.
Ray menoleh ke arah ku. Ia terlihat begitu terkejut, “Sedang apa kau di sini?” tanyanya dengan nada heran.
“Umm..., aku ingin mengembalikan buku ini,” jawab ku sambil mengeluarkan buku Fisika miliknya. “Mengapa kau meminjamkan buku ini kepadaku?” tanyaku kemudian.
“Jika seorang guru melihat siswa teladannya tak membawa buku pelajaran, mungkin ia akan menghukumnya. Dan hukuman itu pasti akan mencoreng nama baiknya.” jawab Ray sambil menaruh buku Fisika itu di atas meja.
Aku tertegun mendengarnya. Mengapa ia lakukan itu? tanyaku dalam hati masih tak percaya.
“Te...terima kasih.” ucapku tergagap sambil menunduk malu. Lalu kami berdua terdiam cukup lama.
“Ray, ini punyamu, kan?” tanyaku memecah keheningan. Aku memberikan sebuah kertas biru muda kepadanya.
Kali ini Ray benar-benar terkejut. Jelas terlihat dari matanya yang terbelalak.
“Kertas ini kutemukan diselipan buku itu.” ungkapku.
Lama sekali Ray terdiam. kemudian ia tersenyum.
“Pastikan hanya kau yang tahu tentang ini, ya, Nata?” Ucap Rai setelah sekian menit ia terdiam.
Aku menggangguk, “Hmm…, tentu.”
Sekarang aku tahu alasan mengapa ia selalu datang terlambat. Kertas biru itu memberikan jawabannya.
Maafkan aku, Ray. Ucap ku dalam hati dengan penuh penyesalan. Rasa benciku kepadanya sekejap hilang dan berubah menjadi rasa simpati.
Ray tersenyum seakan ia bisa membaca isi hatiku.
“Sudah pukul 3 sore,” ucapnya sambil melihat ke arah jam dinding. “Aku harus pergi.” lanjutnya.
“Pergi kemana?” tanya ku cepat.
“Mengapa kau bertanya? Bukan kah kau sudah tahu jawabannya?” Ray bertanya balik.
Ia berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan aku yang masih tertegun dengan pertanyaan barusan. Ah iya benar juga! Point kedua yang tertulis di dalam kertas berwarna biru itu…
1. 13.30 : menemani Naurah di rumah sakit sampai pagi.
2. 15.00 : mengantar nasi ke penjara untuk ibu.
3. 17.30 : kembali kerumah sakit. Malam ini operasi pertama Naurah. Aku harus membuatnya tenang.
Oh Ray, andai kau memberitahu hal ini sejak awal, tentu kau tidak akan terus menerus menerima hukuman.
Komentar
Posting Komentar