Gadis Kecil Dan Pohon Tua




Awan berarak bebas di semesta bagai gumpalan-gumpalan kapas orange yang mengiringi mentari masuk ke peraduan. Kicauan burung-burung asik bermelodi menggoda angin di udara. senja sempurna terlukis di kamis sore. Indah.
Puluhan orang datang ke taman ini. Disini selalu ramai oleh pengunjung. Dibangku-bangku taman, belasan muda-mudi tampak bercengkrama ria, entah apa yang mereka bicarakan, hingga membuat salah satu teman mereka tertawa terbahak-bahak. Beberapa anak kecil berlarian bersama teman-temannya. Sebagian, ada yang bermain bola dan bermain sepeda—seakan akan inilah senja terakhir mereka. Bahagia. Oiya, para pengusaha kecil juga tak kalah riuh nya dalam mengais pundi rezeki mereka. Puluhan gerobak tersusun rapih di luar pagar taman, penjualnya seperti tak pernah kehabisan pembeli. Berkah.
Namun, ditempatku berada—masih disekitar taman, lokasinya agak jauh dari  keramaian, terdapat seorang gadis kecil dengan wajah bulat. Ia terlihat sangat manis dengan rambut yang selalu dikuncir dua. Ia memiliki Mata yang slalu berbinar. Hampir setiap sore ia datang ke taman ini. Bukan untuk bermain bersama teman sebaya nya. Kedatangannya kemari hanya untuk berdiri disamping ku dan memperhatikan anak-anak yang sedang bermain disana.
Setiap sore.
Gadis kecil itu tak pernah berkata-kata, hanya sesekali tersenyum dan bergumam. Dari sorot matanya, sangat jelas terlihat bahwa ia adalah seorang gadis yang kesepian.
Melihatnya, kadang tidak tega. Mungkin jika aku bisa berkata-kata, akan ku temani ia disini tiap sore. Akan aku buat ia bicara dan tertawa.
Namun sayang, aku hanya sebuah pohon tua ditaman ini.
            ##



“Kau selalu melakukan ini setiap sore?”
“Melakukan apa?”
“Memperhatikan kami dari kejauhan. Tidak kah kau tertarik untuk bergabung bersama kami?”
Gadis kecil itu tersenyum. Muka nya memerah. Selama seminggu lebih ia berada ditaman itu—sendiri, namun baru kali ini ada seorang anak laki-laki yang menyapanya.
“Apa kalian mengizinkan ku untuk bermain bresama?” tanya si gadis kecil.
“Ya tentu saja”
Setauku, anak laki-laki itu adalah anak dari penjual siomay yang selalu berdagang di sekitar taman. Sementara ayahnya bekerja, ia menghabiskan waktu bermain bola dengan teman-temannya. Namun, entah alasan apa yang membuat ia tidak tertarik bermain bola hari ini, sehingga ia mau melihat kearah ku dan menjumpai anak gadis yang sedang berdiri sendiri disini.
“Kalau begitu..” si gadis kecil berjalan selangkah sambil menarik tangan anak lelaki itu, “Ayo!” ajak nya sumringah.
Ku perhatikan dari kejauhan. Gadis itu tertawa sangat lepas, kala ia menendang bola namun slalu gagal. Ironis sekali, seorang gadis kecil bermain bola bersama beberapa anak lelaki. Dan aku baru melihatnya—sebahagia itu.

###

“Jadi, apa alasan mu datang ketaman ini setiap sore?” tanya si anak lelaki suatu ketika.
Gadis itu diam sesaat.
“Hidup dalam keluarga yang serba ada, tidak enak. Orangtua ku seakan tak pernah kehabisan tenaga untuk terus mencari uang.” Jawab gadis itu lirih. “Mereka tidak pernah mengajak ku bicara dengan alasan tidak punya waktu luang. Mereka juga tidak memperbolehkan ku keluar rumah dengan alasan, karena mereka sangat peduli dengan keselamatanku. Namun mereka tak pernah peduli—akan aku yang selalu sendiri.” Lanjut nya.
Aku medengarkan dengan seksama. Bibirnya bergetar. Matanya menatap kosong. Ia meneteskan airmata. Anak laki-laki itu mencoba menenangkannya. Oh, nak, andai aku bisa memeluk mu.
“Kau tau—Tuhan itu adil ya?” Kata anak laki-laki itu.
“Tuhan?” Gadis kecil mengerutkan alisnya. Bertanya bingung. Seakan asing dengan kata ‘Tuhan’.
“Bapak sering kali berkata kepadaku; jadi manusia harus pandai bersyukur, walau dengan hidup yang pas-pasan, namun memiliki kebahagiaan yang sederhana. Karena tidak semua orang bisa memaknai hidup. Cari banyak uang, hidup tertuntut waktu, tidak mengenal Allah... lalu, apa mereka bahagia? Tidak.” Anak lelaki itu menjelaskan apa yang sering dikatakan bapaknya.
Sementara si gadis kecil mendengarkan. Ia termenung.
“kau benar...” gumam nya. “kadang aku iri pada mu dan mereka.” Gadis itu tersenyum. Pandangan matanya menatap ke arah anak-anak yang sedang asik bermain disana. “Kalian bermain tanpa beban. Tanpa takut diomeli. Kalian tertawa walau dengan kehidupan yang seperti itu.” Katanya lagi.
Si anak laki-laki terdiam. Lama sekali. Ia menghela napas panjang. Lalu tersenyum.
“Sebentar lagi maghrib, sebaiknya kau pulang.” Kata si anak laki-laki itu sambil memakai sendal jepitnya.
“Oh Ya.” Jawab si gadis kecil sambil bergegas. “Terimakasih untuk hari ini.” Ucap gadis itu lagi sambil tersenyum. Si anak laki-laki mengangguk pelan.
Angin sepoi menerbangkan daun-daun kering di dahan ku. Senja hilang ditelan lantunan-lantunan indah azan maghrib. Hari ini si gadis kecil terlihat sangat senang. Lagi-lagi kehadirannya ditaman itu ditemani oleh anak laki-laki yang baru saja dikenalnya beberapa waktu yang lalu.
Namun ia tidak mengetahui, bahwa kesenangan nya hanya bertahan sementara.

###

Sore yang cantik. Hari ini, jingga menggoreskan gradasi elok di tepi langit. Burung burung berdzikir damai.
Aku adalah sebuah pohon tua yang memiliki daun-daun rimbun di tepi dahannya. Ah, aku ingat, ini musim gugur. Suasana taman dipenuhi oleh puluhan pohonan rimbun yang daunnya kini menguning.
Indah.
Disamping ku, seorang anak gadis tengah berdiri memandangi sekitar. ku taksir usia nya baru berusia 10 tahun. Gadis itu memandang aneh ke arah sekitar. Pasalnya suasana taman tidak seperti biasanya. Yang ramai. Yang slalu dipenuhi orang. Yang slalu dipenuhi para pedagang yang slalu ramai dijkunjungi pembeli. Kini taman itu sepi. Sedikit yang datang untuk hari ini. Kemana mereka?
Di luar pagar taman, bersih. Tidak ada para pedagang yang berjualan disekitarnya. Kemarin malam, lapak  mereka digusur oleh para anak buah seorang pejabat pemilik resmi tanah taman tersebut.
Namun, gadis itu tidak tahu. Orang yang ditunggu nya pasti datang. Ia hanya meyakini itu.

###

Dua minggu telah berlalu. Taman kembali ramai oleh para pengunjung.
 Ini adalah puncak musim gugur.
Ditempatku berada—masih disekitar taman, namun lokasinya agak jauh dari  keramaian, terdapat seorang gadis kecil dengan wajah bulat. Ia terlihat sangat manis dengan rambut yang selalu dikuncir dua.
Masih dengan penantiannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Labil

Sesal

Seminar CORPUS LINGUA